Vol. 1 No. 01 (2023): Edisi Januari-Juni
Articles
-
Analisis Peramalan Pemasangan Internet dengan Menggunakan Metode Single Moving Average dan Exponential Smoothing
Abstract View: 684 PDF Download: 550Every industries, whether manufacturing or service, requires forecasting method. Forecasting is used to determine the number of product demand so the needs for goods and equipment can be met and customer satisfaction can be increased. The single moving average method was chosen to calculate the number of internet installations demand in the next period at PT. XYZ. The results obtained is 28 people requested for installation of stroomnet services in October 2022 using the 3-month single moving average method while using the 5-month single moving average method is 27 people. Forecasting was carried out using the exponential smoothing method with a value of α = 0.1 resulting in the number of demand for installing stroomnet services namely 28 people while the exponential smoothing method with a value of α = 0.5 namely 26 people. The exponential smoothing method with a value of α = 0.5 has the smallest mean absolute error (MAE) and mean squared error (MSE) among the other three methods, namely 4.5 for MAE or equivalent to 4 people and 24.38 for MSE or equivalent with 24 people so this method is highly recommended for forecasting the number of internet service installation demand by PT. XYZ.
Abstrak
Metode peramalan sangat dibutuhkan oleh semua industri, baik industri manufaktur maupun jasa. Peramalan digunakan untuk menentukan jumlah permintaan produk agar kebutuhan barang dan perlengkapan dapat terpenuhi sehingga kepuasan pelanggan dapat ditingkatkan. Metode single moving avarge dipilih untuk menghitung jumlah pemasangan internet pada periode selanjutnya di PT. XYZ. Hasil yang didapat adalah permintaan pemasangan layanan stroomnet pada bulan Oktober tahun 2022 dengan menggunakan metode single moving average 3 bulanan adalah 28 orang sementara dengan menggunakan metode single moving average 5 bulanan adalah 27 orang. Peramalan yang dilakukan dengan menggunakan metode exponential smoothing nilai α = 0,1 menghasilkan jumlah permintaan pemasangan layanan internet yaitu 28 orang, sementara metode exponential smoothing dengan nilai α = 0,5 yaitu 26 orang. Metode exponential smoothing dengan nilai α = 0,5 memiliki nilai mean absolute error (MAE) dan mean squared error (MSE) yang paling kecil diantara ketiga metode lainnya, yaitu 4,5 untuk MAE atau setara dengan 4 orang dan 24.38 untuk MSE atau setara dengan 24 orang sehingga penggunaan metode ini sangat direkomendasikan untuk peramalan jumlah permintaan pemasangan layanan internet oleh PT. XYZ.
-
Analisa kelayakan bisnis PLTS untuk Rumah Subsidi Tipe 36 (Studi kasus di kota Palembang)
Abstract View: 943 PDF Download: 1046Subsidized housing is a major need for the people of Indonesia, as a developing country, its people need subsidies to have decent housing. And in this journal a business feasibility analysis is carried out using the SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) method in the context of subsidized housing development that integrates Solar Power Plants (PLTS) as an energy source. This study aims to evaluate the feasibility and potential benefits of using PLTS in subsidized housing development projects, especially in terms of sustainability, availability of affordable energy, and economic aspects. This study uses a comprehensive analysis, including a SWOT analysis, to evaluate internal and external factors that may affect project feasibility. The strengths and weaknesses analysis will highlight the advantages and limitations of implementing PV mini-grid, while the opportunities and threats analysis will consider external factors that can affect the success of the project. The results of this study reveal several important points. First, the use of PLTS in subsidized housing construction offers significant advantages in terms of environmental sustainability by reducing greenhouse gas emissions and dependence on fossil fuels. Second, although the initial investment required for PLTS installation can be a financial challenge, the use of PV mini-grid can result in long-term cost savings through reduced operational costs and dependence on conventional energy sources.
Abstrak
Rumah subsidi merupakan sebuah kebutuhan utama bagi masyarakat Indonesia yang sebagai negara berkembang masyarakatnya membutuhkan subsidi dalam memiliki perumahan yang layak. Dan dalam jurnal ini dilakukan analisis kelayakan bisnis menggunakan metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dalam konteks pembangunan perumahan subsidi yang mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan dan potensi manfaat dari penggunaan PLTS dalam proyek pembangunan perumahan subsidi, terutama dalam hal keberlanjutan, ketersediaan energi yang terjangkau, dan aspek ekonomi. Studi ini menggunakan analisis komprehensif, termasuk analisis SWOT, untuk mengevaluasi faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi kelayakan proyek. Analisis kekuatan dan kelemahan akan menyoroti keunggulan dan keterbatasan implementasi PLTS, sementara analisis peluang dan ancaman akan mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi keberhasilan proyek. Hasil penelitian ini mengungkapkan beberapa poin penting. Pertama, penggunaan PLTS dalam pembangunan perumahan subsidi menawarkan keuntungan yang signifikan dalam hal keberlanjutan lingkungan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Kedua, meskipun investasi awal yang diperlukan untuk instalasi PLTS bisa menjadi tantangan keuangan, penggunaan PLTS dapat menghasilkan penghematan biaya jangka panjang melalui pengurangan biaya operasional dan ketergantungan pada sumber energi konvensional. -
Analisis Kepuasan Pelanggan Terhadap Kualitas Pelayanan Dengan Mengunakan Metode SERVQUAL dan Quality Function Deployment di CV. Sartika Palembang
Abstract View: 801 PDF Download: 652The main needs of the nine basic commodities (groceries) that appear a lot in the Palembang area have made the competition between these sales service providers even tighter and this is one of the motivating factors for basic food sellers to improve service quality. To be able to determine the level of customer satisfaction and the level of gaps in the store, the researchers used the Service Quality (SERVQUAL) method. SERVQUAL is a method for identifying the level or level of service quality in a service industry which consists of five dimensions of service quality, namely reliability, assurance, tangibles, empathy and responsiveness by analyzing gaps. (gap) that occurs as a result of a discrepancy between consumer expectations and perceptions of the quality of service they receive. the level of customer satisfaction with the service at CV. Sartika Palembang using the SERVQUAL method found that the average gap is -0.40. This shows that according to consumer perceptions that the company's services still do not fully meet expectations. Priority for improving services for consumers through the House Of Quality (HOQ) matrix, such as companies investing in equipment with modern technology, maintenance of existing facilities must look good, companies must have accurate records, company physical facilities must look attractive, company employees must have knowledge and The company must have suitable and comfortable operating hours.
Abstrak
Kebutuhan utama Sembilan bahan pokok (sembako) yang banyak muncul di wilayah Palembang membuat persaingan antar penyedia jasa penjualan tersebut semakin ketat dan itu merupakan salah satu faktor pendorong bagi para penjual sembako untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Untuk dapat mengetahui tingkat kepuasaan pelanggan serta tingkat gap yang terdapat di Toko, maka peneliti menggunakan metode Service Quality (SERVQUAL). SERVQUAL merupakan metode untuk mengidentifikasi tingkat atau level kualitas pelayanan suatu industri jasa yang terdiri dari lima dimensi kualitas pelayanan yaitu kehandalan (reliabillity), jaminan (assurance), bentuk fisik (tangible), empati (emphaty) dan daya tanggap (responsivness) dengan menganalisa kesenjangan (gap) yang terjadi akibat ketidaksesuaian antara harapan dan persepsi konsumen terhadap kualitas pelayanan yang diterimanya. tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan di CV. Sartika Palembang dengan menggunakan metode SERVQUAL didapatkan bahwa kesenjangan (gap) rata-rata yaitu sebesar -0.40. Hal ini menunjukan bahwa menurut persepsi konsumen bahwa pelayanan perusahaan masih belum memenuhi harapan secara penuh. Prioritas peningkatan pelayanan untuk konsumen melalui matriks House Of Quality (HOQ) seperti perusahaan melakukan investasi alat dengan teknologi modern, perawatan fasilitas yang ada harus tampak baik, perusahaan harus memiliki pencatatan yang akurat, fasilitas fisik perusahaan harus tampak menarik, karyawan perusahaan harus memiliki pengetahuan dan perusahaan harus memiliki waktu operasi yang sesuai dan nyaman.
-
Peramalan Jumlah Persediaan Komoditas di PT Pelabuhan Indonesia II Cabang Palembang Menggunakan Metode Moving Average dan Exponential Smoothing
Abstract View: 611 PDF Download: 692PT. Pelabuhan Indonesia II Palembang Branch is required to be fast and precise in carrying out commodity loading and unloading services. The high number of commodities that will be carried out for loading and unloading is often unpredictable so it will result in accumulation. Forecasting is needed to predict the amount of commodity inventory that will be loaded and unloaded in the next month. This study uses two forecasting methods, moving average and exponential smoothing methods that will be compared to find out which method that effective in predicting the amount of commodity inventory. The results of data processing using both methods are 99,749.5 tons of commodity inventories that will be loaded and unloaded in January 2021 consisting of 88,293 tons of CPO, 4,374 tons of asphalt, and 1,743 tons of copra according to forecasts using the 7-month moving average method while for PKE commodity is 5,339.5 tons according to the forecast using the exponential smoothing method α = 0.1. The accuracy of the 7-month moving average method as a whole can be said to be quite good with MAPE values of 68.5% for CPO, 25% for asphalt and 11.4% for copra. Meanwhile, the use of the exponential smoothing method α = 0.1 gives better accuracy results in forecasting the total supply of PKE commodities with a MAPE value of 56.3%.
Abstrak
PT. Pelabuhan Indonesia II Cabang Palembang diharuskan untuk cepat dan tepat dalam melakukan pelayanan bongkar muat komoditas. Tingginya jumlah komoditas yang akan dilakukan bongkar muat seringkali tidak dapat diprediksi sehingga akan berakibat pada adanya penumpukan. Suatu peramalan diperlukan untuk memprediksi jumlah persediaan komoditas yang akan dilakukan bongkar muat pada bulan selanjutnya. Penelitian ini menggunakan dua metode peramalan yaitu moving average dan exponential smoothing yang akan dibandingkan untuk mengetahui metode peramalan yang efektif dalam meramalkan jumlah persediaan komoditas. Hasil dari pengolahan data menggunakan kedua metode adalah sebanyak 99.749,5 ton jumlah persediaan komoditas yang akan dilakukan bongkar muat pada bulan Januari 2021 terdiri dari 88.293 ton CPO, 4.374 ton aspal, dan 1.743 ton kopra sesuai dengan peramalan menggunakan metode moving average 7 bulanan sedangkan untuk komoditas PKE adalah 5.339,5 ton sesuai dengan peramalan menggunakan metode exponential smoothing α = 0,1. Akurasi dari metode moving average 7 bulanan secara keseluruhan bisa dikatakan cukup baik dengan nilai MAPE 68,5% untuk CPO, 25% untuk aspal, dan 11,4% untuk kopra. Sementara itu, penggunaan metode exponential smoothing α = 0,1 memberikan hasil akurasi yang lebih baik pada peramalan jumlah persediaan komoditas PKE dengan nilai MAPE yaitu 56,3%.
-
Analisis Pengendalian Persediaan Barang Gudang Ban Luar dan Ban Dalam Menggunakan Metode Economic Order Quantity (EOQ)
Abstract View: 987 PDF Download: 1105The company's operational activities often experience problems with warehouse inventory which often experience a shortage of inventory. This deficiency causes operational activities to stop. This study aims to analyze inventory control of outer tire and inner tube warehouses using the Economic Order Quantity (EOQ). The results of the study show that the frequency of ordering with the old method is 67 times with an average order of 4 pcs, whereas according to the EOQ method, the frequency of orders that should be made is 21 times with 13 pcs/order, while the frequency of ordering with the old method is 25 times with the average order is 12 pcs and according to the EOQ method, the order frequency is 36 times with a quantity per message of 8 pcs. Safety stock according to the EOQ method for outer tires is 1.6 pcs and for inner tubes is 1.4 pcs, while the method applied by the company does not carry out safety stock. Re-Order Point of the old method is when the stock is less than 3 pcs, whereas according to EOQ, Re-order when the stock is only 4.6 pcs and the inner tube is 4.4 pcs. The total cost of inventory for outer tire and inner tube warehouses in 2021 using the EOQ method is less than company policy. The total inventory cost from the EOQ method for the outer tires was Rp. 441,325.88 and for the inner tubes was Rp. 570,497.57, while for the outer tires was Rp. 8,949,666 and the inner tubes were Rp. 8,631,635.
Abstrak
Kegiatan operasional perusahaan sering mengalami permasalahan pada persediaan gudang yang sering mengalami kekurangan persediaan Kekurangan tersebut mengakibatkan kegiatan operasional terhenti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengendalian persediaan barang gudang ban luar dan ban dalam dengan menggunakan Economic Order Quantity (EOQ). Hasil dari penelitian bahwa frekuensi pemesanan dengan metode lama adalah sebanyak 67 kali dengan rata-rata pemesanan 4 pcs, sedangkan menurut metode EOQ, frekuensi pemesanan yang seharusnya dilakukan adalah 21 kali dengan 13 pcs/order, sedangkan frekuensi pemesanan dengan metode lama adalah 25 kali dengan rata-rata pemesanan sebanyak 12 pcs dan menurut metode EOQ, frekuensi pemesanan adalah sebanyak 36 kali dengan kuantitas per pesan 8 pcs. Safety stock menurut metode EOQ untuk ban luar adalah sebesar 1,6 pcs dan ban dalam adalah sebesar 1,4 pcs, sedangkan metode yang diterapkan perusahaan tidak melakukan persediaan pengaman. Re-Order Point metode lama adalah ketika stock kurang dari 3 pcs, sedangkan menurut EOQ, Re-order ketika stock tinggal 4,6 pcs dan ban dalam 4,4 pcs. Total biaya persediaan pada barang gudang ban luar dan ban dalam tahun 2021 dari metode EOQ lebih kecil dibanding kebijakan perusahaan. Total biaya persediaan dari metode EOQ pada ban luar sebesar Rp 441.325,88 dan pada ban dalam sebesar Rp 570.497,57, sedangkan untuk ban luar adalah sebesar Rp 8.949.666 dan pada ban dalam adalah sebesar Rp 8.631.635.





