AKADEMI DESAIN ANIMASI DAN PERMAINAN DI PALEMBANG DENGAN KONSEP HIGH TECH
Keywords:
Akademi, Animasi, Desain Permaianan, Arsitektur High TechAbstract
Akademi Desain Animasi dan Permainan adalah institusi pendidikan tinggi yang secara khusus fokus pada pengembangan keterampilan dan pengetahuan dalam bidang desain animasi dan permainan. Program-program yang ditawarkan di akademi ini dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi profesional yang kompeten dalam industri kreatif yang terus berkembang ini. Dengan memadukan teori dan praktik, akademi ini memberikan landasan yang kokoh dalam aspek-aspek kreatif, teknis, dan konseptual dari desain animasi dan permainan. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk menggali berbagai teknik animasi, desain karakter, pembuatan model 3D, serta pengembangan permainan yang melibatkan pemrograman dan desain level. Hasil perancangan lokasi terletak di Kota Palembang Jl. H.Burlian Kota Palembang dengan luas lahan 51.622 M² dan luas bangunan 12.460 M², ruang yang di rancang berubap ruang kelas, r auditorium, ruang lab, ruang perpustakaan, ruang dosen, ruang administrasi, ruang pengelola, dan ruang service.
References
Ahmad Rahimian, P. E., & Eilon, Y. (2006, February 29). New York’s Hearst Tower.
Ahmad Rahimian, P. E., & Eilon, Y. (2008). New York’s Hearst Tower (p. 2).
Antoniades, A. C. (1990). Poetics of architecture: Theory of design. Von Nostrand Reinhold.
Ching, F. D. K., De Chiara, J., & Crosbie, M. J. (2008). Arsitektur: Bentuk, ruang, dan tatanan. Erlangga.
Cornie, A., Aldidarest, & others. (2014). Sekolah desain animasi dan game Semarang. Retrieved March 30, 2015, from Digital Archive.
Davies, C. (1988). Arsitektur berteknologi tinggi (pp. 42–55). Thames & Hudson.
Davies, C. (1988). High-tech architecture. Rizzoli International Publications.
Esa Dora, P. (2011). Optimasi desain pencahayaan ruang kelas SMA Santa Maria Surabaya. Dimensi Interior, 9(2).
Habraken, N. J. (1988). Type as a social agreement. In Proceedings of the Asian Congress of Architects, Seoul.
Handayani, S. (2009). Arsitektur dan lingkungan. UPI.
Jencks, C. (1977). The language of post-modern architecture. Academy Editions.
Jencks, C. (1988). The battle of high tech, great building with great fault. Architectural Design.
Juwana, J. S. (2005). Panduan sistem bangunan tinggi. Erlangga.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2019). Konservasi. https://kbbi.web.id/konservasi
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2019). Rancang. https://kbbi.web.id/rancang-2
Muhartati, R. I., & Farkhan, A. (2019). Penerapan teori arsitektur high technology pada rancangan gedung olahraga di Purbalingga. Senthong, 2(2).
Noorhayati, H., et al. (2014). Akademi desain grafis dan animasi di Semarang. Imaji, 3(3), 450.
Neufert, E., & Neufert, P. (1989). Architects data (3rd ed.).
Neufert, E., & Tjahjadi, S. (2003). Data arsitek jilid 2. Erlangga.
Neufert, E. (1996). Data arsitektur jilid 1 (S. Tjahjadi, Trans.). Erlangga. (Original work published in German)
Pamungkas, O. B. (2011). Pembuatan animasi 2D dengan teknik rotoscoping. Retrieved April 19, 2015, from Digital Archive.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2020). Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
Strong, J. (2010). Theatre buildings: A design guide. ABTT.
Telew, M., & Lintong, S. (2011). Arsitektur high tech. Media Matrasain, 8(2).
Widanarko, S. (2007). Pedoman penjaminan mutu akademik Universitas Indonesia: Prasarana dan sarana akademik.




